
Kata Pak Edi Mulia, 'Stan 83 memang okeh,...'
~~ because memory could be eternal ~~
Berpose di depan Masjid BPKP Perwakilan Jakarta.
Latihan menjadi pejabat yang sedang tourne ke daerah :-)
Edwin menyumbang lagu gratis, didampingi para penari latar yang salah posisi karena bergoyang di depan sang vokalis: Murni, Kumala Sari, EdMul, Yo, dan Susi.
Nah yang ini benar-benar penari latar: Edwin, sang vokalis, Murni, EdMul, Susih dan Yo.
Simak dan tirulah gaya Simon yang penuh penjiwaan. Tampak juga: Yo, Susi dan Adi.

Rekan kita Ganovar, sekarang sudah menjadi pejabat di lingkungan perguruan tinggi. Jabatan beliau tepatnya adalah Ketua Jurusan Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi PBM. Hebat euy !!
Awalnya ada sebuah postingan di suatu milis yang saya ikuti yang menyinggung soal CFE. Karena penasaran saya mencoba mendapatkan informasi mengenai CFE ini di internet. Singkat kata, akhirnya saya sampai di situs Association of Certified Fraud Examiners dengan alamat http://www.acfe.com
Kwik Kian Gie adalah teman seperjuangan yang dekat dengan Megawati. Yang tidak dapat dimengerti oleh banyak orang adalah mengapa Kwik tidak menceriterakan yang diceriterakannya seperti yang dikutip di atas? Mengapa dia membiarkan dirinya dikepung oleh Berkeley Mafia?. Tidak ada orang yang mengetahui dengan persis.
Yang mengetahui agak banyak adalah Soetardjo Soerjoguritno. Dia pernah berceritera bahwa Kwik dan Laksamana dalam rencana tidak masuk dalam kabinet Mega, sehingga yang masuk dalam kabinet dari PDIP hanyalah Prakosa dan Jacob Nuwawea. Entah mengapa, akhirnya nama
Kwik dan Laksamana tercantum juga. Tetapi kedudukan Kwik di tempat pinggiran. Ini nampaknya memang grand design dari kekuatan Berkeley Mafia. Di kalangan para diplomat memang beredar informasi bahwa Kwik mulutnya besar, tetapi tidak perlu diperhatikan sama sekali. Dia sama sekali tidak relevan. Dia dipinggirkan oleh presidennya sendiri, dan dia dipinggirkan oleh siapapun juga. Maka jangan membuang-buang waktu berbincang-bincang dengan dia. Biarkanlah berteriak-teriak. Toh tidak ada satupun yang digubris.
Obsesinya terakhir ini adalah obligasi rekap perbankan. Tidak ada yang menggubris.Tetapi dia semakin lama semakin gila, sehingga kalau begini terus dia akan terkena stroke yang buat Berkeley Mafia lebih baik lagi. Entah apa yang pernah diperbuat oleh Kwik terhadap Berkeley Mafia. Mereka sengit betul. Ketika Kwik Menko di kabinet Gus Dur, dia sudah dijepit dan dihina oleh Dewan Ekonomi Nasional yang semuanya Berkeley Mafia. Dalam kabinet Megawati waktu itu, Kwik dijepit oleh Frans Seda yang dalam PDIP mempunyai kedudukan penting karena dianggap mewakili ex Partai Katolik dalam fusi PDIP.
Menteri Keuangan Jusuf Anwar mengenakan jaket biru STAN ketika menghadiri MoU antara Bank Mandiri dengan Dirjen Piutang dan Lelang Negara. Di foto kecil sebelah, emblim STAN tidak terlalu tampak. Gambar yang lebih besar dan jelas dapat dilihat di Koran Bisnis Indonesia tanggal 29 November 2005.Bagaimana portretnya ekonomi Indonesia sekarang ini? Kwik Kian Gie menggambarkannya
sebagai bahwa: "Negara kita yang kaya akan minyak telah menjadi importir netto minyak untuk kebutuhan bangsa kita. Negara yang dikaruniai dengan hutan yang demikian luas dan lebatnya sehingga menjadikannya negara produsen eksportir kayu terbesar di dunia dihadapkan pada hutan-hutan yang gundul dan dana reboisasi yang praktis nihil karena dikorup. Walaupun telah gundul, masih saja terjadi penebangan liar yang diselundupkan ke luar negeri dengan nilai sekitar 2 milyar dollar AS. Sumber
daya mineral kita dieksploitasi secara tidak bertanggung jawab dengan manfaat terbesar jatuh pada kontraktor asing dan kroni Indonesianya secara individual. Rakyat yang adalah pemilik dari bumi, air dan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya memperoleh manfaat yang sangat minimal. Ikan kita dicuri oleh kapal-kapal asing yang nilainya diperkirakan antara 3 sampai 4 milyar dollar AS. Hampir semua produk pertanian diimpor. Pasir kita dicuri dengan nilai yang minimal sekitar 3 milyar dollar AS.
Republik Indonesia yang demikian besarnya dan sudah 57 tahun merdeka dibuat lima kali bertekuk lutut harus membebaskan pulau Batam dari pengenaan pajak pertambahan nilai setiap kali batas waktu untuk diberlakukannya pengenaan PPn sudah mendekat. Kebanyakan orang menganggap bahwa tidak datangnya investor asing menjadi ancaman besar. Sikap yang tidak mencerminkan pikiran yang mandiri. Industri-industri yang kita banggakan hanyalah industri manufaktur yang sifatnya industri tukang jahit dan perakitan yang bekerja atas upah kerja dari para majikan asing dengan laba yang berlipat-lipat ganda dari upah atau maklon yang membuat pemilik industri perakitan dan industri penjahitan itu cukup kaya atas penderitaan kaum buruh
Indonesia seperti yang dapat kita saksikan di film "New Rulers of the World" buatan John Pilger.
Pembangunan dibiayai dengan utang luar negeri melalui organisasi yang bernama IGGI/CGI yang penggunaannya diawasi oleh lembaga-lembaga internasional. Sejak tahun 1967 setiap tahunnya pemerintah mengemis utang dari IGGI/CGI sambil dimintai pertanggungan jawab tentang bagaimana dirinya mengurus Indonesia? Anehnya, setiap tahun mereka bangga kalau utang yang diperoleh bertambah. Mereka merasa bangga dapat memberikan pertanggungan jawab kepada IGGI/CGI ketimbang kepada parlemennya sendiri. Utang dipicu terus tanpa kendali sehingga sudah lama pemerintah hanya mampu membayar cicilan utang pokok yang jatuh tempo dengan utang baru atau dengan cara gali lubang tutup lubang. Sementara ini dilakukan terus, sejak tahun 1999 kita sudah tidak mampu membayar cicilan pokok yang jatuh tempo. Maka dimintalah penjadwalan kembali. Hal yang sama diulangi di tahun 2000 dan 2002. Kali ini pembayaran bunganya juga sudah tidak sanggup dibayar sehingga juga harus ditunda pembayarannya. Jumlahnya ditambahkan pada utang pokok yang dengan sendirinya juga menggelembung yang mengandung kewajiban pembayaran bunga oleh pemerintah.
Bank-bank dalam negeri digerogoti oleh para pemiliknya sendiri. Bank yang kalah clearing dan harus diskors diselamatkan oleh Bank Indonesia dengan menciptakan apa yang dinamakan fasilitas diskonto. Setelah itu masih kalah clearing lagi, dan diselamatkan lagi dengan fasilitas diskonto ke II. Uang masyarakat yang dipercayakan kepada bank-bank dalam negeri dipakai sendiri oleh para pemilik bank untuk mendanai pembentukan konglomerat sambil melakukan mark up. Pelanggaran Legal Lending Limit dilanggar selama bertahun-tahun dalam jumlah yang menghancurkan banknya dengan perlindungan oleh Bank Indonesia sendiri. Maka
ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di akhir tahun 1997, terkuaklah betapa bank sudah hancur lebur. Kepercayaan masyarakat menurun drastis. Rupiah melemah dari Rp. 2.400 per dollar menjadi Rp. 16.000 per dollar.
Dalam kondisi yang seperti ini Indonesia yang anggota IMF dan patuh membayar iurannya menggunakan haknya untuk minta bantuan. Kita mengetahui bahwa paket bantuan dari IMF disertai dengan conditionalities yang harus dipenuhi oleh pemerintah Indonesia. Namun tidak kita perkirakan semula bahwa isinya demikian tidak masuk akal dan demikian menekan serta merugikannya. Juga tidak kita perkirakan pada awalnya bahwa kehadiran IMF di Indonesia menjadikan semua lembagai internasional seperti CGI, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia bersatu padu dalam sikap dan persyaratan di bawah komando IMF. IMF mensyaratkan bahwa pemerintah melaksanakan kebijakan dan program yang ditentukan olehnya, yang dituangkan dalam Memorandum of Economic and Financial Policies (MEFP) atau lebih memasyarakat dengan nama Letter of Intent atau LOI. Bank Dunia setiap tahunnya juga menyusun apa yang dinamakan Country Strategy Report tentang Indonesia yang harus dilaksanakan kalau tidak mau diisolasi oleh negara-negara CGI yang sampai sekarang setiap tahun memberikan pinjaman kepada Indonesia. Justru karena jumlah utang keseluruhannya sudah melampaui batas-batas kepantasan dan prinsip kesinambungan, untuk sementara dan entah sampai kapan kita tidak dapat hidup tanpa berutang terus setiap tahunnya kalau kita tidak mau bahwa puluhan juta anak miskin kekurangan gizi dan putus sekolah.
Kalau kita baca setiap LOI dan setiap Country Strategy Report serta setiap keikut-sertaan lembaga-lembaga internasional dalam perumusan kebijakan pemerintah, kita tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan bahwa yang memerintah Indonesia sudah bukan pemerintah Indonesia sendiri. Jelas sekali bahwa kita sudah lama merdeka secara politik, tetapi sudah kehilangan kedaulatan dan kemandirian dalam mengatur dirisendiri." Demikian paparan Kwik.
Tidak mampu membayar sehingga bank-bank hancur. IMFmemaksa merekap dengan obligasi pemerintah. Utang luar negeri yang tadinya ditabukan selama 32 tahun mendadak dipaksakan oleh IMF sampai mendadak sontak nilainya menjadi sama besarnya dengan jumlah utang luar negeri. Dalam kondisi seperti ini, keuangan negara hancur lebur. Anggaran negara hanya dapat dibuat kalau ada utang dari luar negeri maupun dalam negeri. Utang dalam negeri ada batasnya. Maka
ketergantungan pada utang luar negeri untuk jangka waktu yang sangat panjang kedepannya akan menjadi mutlak. Kekuatan asing selalu menyediakan uangnya. Tetapi kali ini yang menyusun APBN sudah mereka setujui 100 %. Dan setiap tahun kekuatan asing memberikan utang secukupnya asalkan RI membuka pintunya untuk pertambangan dengan syarat yang sangat merugikan rakyat Indonesia. Tahun berikutnya RI harus membuka jasa untuk asing, sehingga profesional asing harus boleh berpraktek di sini. Tahun berikutnya lagi pelabuhan laut, pelabuhan udara, semua industri vital harus diprivatisasi dan dibeli oleh asing. Dalam trend seperti ini, para ekonom anggota Berkeley Mafia dan para ekonom yang bangga dekat dengan orang-orang bule menyediakan diri untuk menjadi pesuruh-pesuruhnya.
Tetapi utangnya juga meningkat terus. Investasi yang melebihi tabungan dan karena itu dibiayai oleh utang luar negeri selalu mengakibatkan defisit dari transaksi berjalan. Maka transaksi berjalan selalu defisit. Kekurangan cadangan devisa ditutup dengan masuknya modal asing. Jadi defisit dalam current account ditutup dengan masuknya modal dalam capital account. Ini boleh-boleh saja kalau mengerti batasnya, atau kalau negara stabil terus sehingga kemungkinan larinya modal asing nihil. Para teknokrat itu nampaknya tidak mengerti. Utang luar negeri setiap tahun ditambah terus. Maka kemungkinan melakukan pembayaran dari perolehan devisa dari surplus ekspor minus impor negatif.
Dengan sendirinya ukuran tentang kemampuan membayar utang luar negeri yang dinyatakan dalam perbandingan antara perolehan devisa dan pembayarannya dinyatakan dengan istilah debt service ratio. Ini adalah perbandingan antara
perolehan devisa dengan yang harus dipakai untuk membayar utang luar negeri yang jatuh tempo. Ukuran yang dianggap aman secara internasional adalah 20 %. Tetapi ketika angkanya sudah jauh melampui 20 %, para ekonom Berkeley Mafia itu berganti ukuran, yaitu jumlah utang luar negeri dinyatakan dalam persen dari PDB. Karuan saja terus menurun tajam. Berkeley Mafia selalu main-main dengan trik-trik yang sifatnya mengelabui rakyat. Apakah mereka sengaja jahat? Saya kira tidak. Mereka hanya bodoh saja, dan eksistensinya tergantung pada kekuatan asing yang terorganisir rapi.
Namun Berkeley Mafia dengan segala senang hati menyediakan diri. Mereka bahkan menguasai Soeharto dengan cara selalu menyuruh kekuatan asing ini yang berbicara keras dan menakut-nakuti pak Harto. Karena pak Harto dasarnya memang tidak tahu tentang ekonomi, dia nurut saja. Apalagi karena di bawah pimpinannya RI mengalami booming ekonomi yang disebut sebagai macan Asia dan keajaiban ekonomi. Sebutan ini juga diciptakan oleh kekuatan asing yang meninabobokkan Indonesia terhadap bahaya utang luar negeri. Seperti dikatakan tadi, bahayanya adalah kalau terjadi keguncangan kepercayaan, modal yang demikian besarnya ditanam di Indonesia lari mendadak. Nilai rupiah ambruk. Kredit dalam valuta asing yang juga sengaja dibuat liberal tanpa kendali banyak yang ditanam dalam saham-saham, bukan FDI. Maka larilah modal itu, ambruk nilai rupiah dan hancur berantakan perbankannya.
Kekuatan asing lihai. Memang ini yang diinginkan supaya Indonesia tidak mampu membayar utangnya, sehingga terpaksa minta penundaan pembayarannya. Penundaan pembayaran ini prosesnya sulit, yaitu melalui Paris Club. Indonesia dalam zaman reformasi saja sudah tiga kali
minta pengunduran pembayaran utang karena tidak mampu. Selalu diberi, tetapi bunganya tidak boleh. Hanya dalam penjadwalan terakhir bunganyapun ditunda pembayarannya. Tetapi tidak dihapus. Bunganya menjadi tambahan dari utang pokok, sehingga utangnya menggelembung. Setelah modal luar negeri lari seperti yang digambarkan tadi, dampaknya adalah hancur leburnya nilai rupiah. Banyak utang luar negeri membengkak dalam rupiah.
Strategi Ekonom Berkeley
Lanjut ceritanya, setelah Soeharto mengambil kekuasaan dan kabinet terbentuk dengan menteri-menteri ekonomi yang semuanya Berkeley Mafia, mereka di tahun 1967 langsung mengadakan konferensi di Jenewa yang dipimpin oleh dua dari triumvirat Orde Baru, yaitu Sri Sultan Hamengkubowono IX dan Adam Malik. Mereka ini figur-figur politiknya, tetapi tidak mengerti apa-apa tentang ekonomi. Para teknokrat ekonominya adalah Berkeley Mafia itu. Salah seorang terpenting ketika itu adalah Moh. Sadli, karena dia menteri investasi.
Di Jenewa itu mereka berunding dengan captains of industries Barat, terutama Amerika Serikat. Pimpinan mereka ketika itu adalah David Rockeffeler. Isinya adalah paket penjualan negara kepada para investor barat. Mereka dengan para akhli ekonom mereka yang mendikte secara persis apa semua yang harus dilakukan oleh Indonesia. Modalnya disediakan oleh banyak negara barat yang bergabung dalam CGGI. Sampai sekarang eksistensinya masih kokoh. Namanya yang berubah menjadi CGI.
Perlu diketahui, utang luar negeri yang diwariskan oleh Soekarno hanyalah US $ 2 milyar. Mestinya IGGI dengan sangat mudah mau menghapusnya, seperti ketika Jerman yang baru bangkit dari kehancuran seusai Perang Dunia II, misalnya, pernah memperoleh keringanan berupa penghapusan 50 persen utang luar negerinya. Yang menarik, "Model Jerman" ini yang juga diterapkan untuk membantu Indonesia lewat perundingan yang melibatkan Pemerintah RI, negara-negara kreditor dari Club of Paris, dan pencetus "Model Jerman", Josef Abs, di Paris tahun 1970.